Create your blog and photo album with postbit
Create your blog and photo album

Create new post

Content:

Upload a picture:
Tags (keywords separated by comma)

Save Cancel
viborg90kirby:   Followers: 0 ; Following: 0


Arti Aqiqah Menurut Agama Islam



Pendapat bahasa ‘Aqiqah artinya: menguraikan. Asalnya dinamakan ‘Aqiqah, sebab dipotongnya leher binatang secara penyembelihan ini. Ada yang mengatakan jika aqiqah ialah nama bagi hewan yang disembelih, disebut demikian sebab lehernya dipotong Ada pun yang menunjukkan bahwa ‘aqiqah itu asalnya ialah: Sabut yang tersembunyi pada penyelenggara si balita ketika ia keluar dari rahim pokok, rambut itu disebut ‘aqiqah, karena ia mesti dicukur.

Aqiqah merupakan penyembelihan domba/kambing untuk budak yang dilahirkan pada hari ke 7, 14, / 21. Jumlahnya 2 termuda untuk momongan laki-laki & 1 ekor untuk balita perempuan.

Dalil-dalil Pelaksanaan

Daripada Samurah bin Jundab dia berkata: Nabi bersabda: “Semua anak bayi tergadaikan secara aqiqahnya yang pada hari ketujuhnya disembelih hewan (kambing), diberi pamor dan dicukur rambutnya. ” [HR Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, Ahmad]

Dari Aisyah dia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Bayi laki-laki diaqiqahi dengan dua kambing yang serupa dan budak perempuan satu kambing. ” [HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah]

Anak-anak ini tergadai (tertahan) dengan aqiqahnya, disembelih fauna untuknya di dalam hari ketujuh, dicukur kepalanya dan diberi nama. ” [HR Ahmad]

Mulai Salman bin ‘Amir Ad-Dhabiy, dia mengatakan: Rasululloh bersabda: “Aqiqah dijalankan karena kelahiran bayi, jadi sembelihlah satwa dan hilangkanlah semua seloroh darinya. ” [Riwayat Bukhari]

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Nabi bersabda:

“Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi dipastikan hendaklah ia lakukan untuk laki-laki 2 kambing yang sama dan untuk perempuan tunggal kambing. ” [HR Abu Dawud, Nasa’i, Ahmad]

Dari ‘Aisyah RA, ia berkata, “Rasulullah SAW pernah ber ‘aqiqah untuk Lembut dan Husain pada hari ke-7 atas kelahirannya, sira memberi pamor dan mengarahkan supaya dihilangkan kotoran mulai kepalanya (dicukur)”. [HR. Hakim, di AI-Mustadrak juz 4, hal. 264]

Keterangan: Hasan dan Husain ialah cucu Nabi SAW.

Atas Fatimah binti Muhammad saat melahirkan Rancak, dia mengatakan: Rasulullah berkata: “Cukurlah rambutnya dan bersedekahlah dengan galuh kepada orang miskin seberat timbangan rambutnya. ” [HR Ahmad, Thabrani, serta al-Baihaqi]

Daripada Abu Buraidah r. a.: Aqiqah itu disembelih dalam hari ketujuh, atau keempat belas, atau kedua persepuluhan satunya. (HR Baihaqi serta Thabrani).

Norma Aqiqah Bujang adalah sunnah (muakkad) serasi pendapat Imam Malik, penduduk Madinah, Imam Syafi'i & sahabat-sahabatnya, Imam Ahmad, Ishaq, Abu Tsaur dan rutin ulama pandai fiqih (fuqaha).

Dasar yang dipakai sama kalangan Syafii dan Hambali dengan mengatakannya sebagai sesuatu yang sunnah muakkadah ialah hadist Nabi SAW. Yang berbunyi, “Anak tergadai beserta aqiqahnya. Disembelihkan untuknya di hari ketujuh (dari kelahirannya)”. (HR al-Tirmidzi, Hasan Shahih)

“Bersama bani ada aqiqah, maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan dan gebyur darinya kotoran (Maksudnya cukur rambutnya). ” (HR: Ahmad, Al Bukhari dan Ashhabus Sunan)

Ujaran: “maka tumpahkan (penebus) darinya darah sembelihan” adalah perintah, namun sungguh bersifat tentu, karena siap sabdanya yang memalingkan atas kewajiban adalah: “Barangsiapa di antara kalian siap yang ingin menyembelihkan untuk anak-nya, dipastikan silakan lakukan. ” (HR: Ahmad, Bubuk Dawud dan An Nasai dengan sanad yang hasan).

Perkataan: “ingin menyembelihkan,.. ” merupakan pendapat yang menjungkirkan perintah yang pada dasarnya tetap menjadi sunnah.

Imam Yg dipertuan berkata: Aqiqah itu menyerupai layaknya nusuk (sembeliah kompensasi larangan haji) dan udhhiyah (kurban), gak boleh di aqiqah tersebut hewan yang picak, kurus, patah urat, dan pedih. Imam Asy-Syafi’iy berkata: & harus dihindari dalam fauna aqiqah ini cacat-cacat yang tidak diperbolehkan dalam qurban.

Buraidah berkata: Lalu kami dalam masa jahiliyah apabila salah seorang diantara kami mempunyai anak, ia menyembelih wedus dan mengotori kepalanya dengan darah kambing itu. Dipastikan setelah Yang mahakuasa mendatangkan Islam, kami merebahkan membantai kambing, menyikat (menggundul) oknum si balita dan melumurinya dengan minyak wangi. [HR. Debu Dawud perkara 3, sesuatu. 107]

Atas ‘Aisyah, ia berkata, “Dahulu orang-orang di masa jahiliyah apabila mereka ber’aqiqah untuk seorang budak, mereka mengotori kapas secara darah ‘aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka mencolekkan pada kepalanya”. Maka Rasul SAW bersabda, “Gantilah darah itu secara minyak wangi”.[HR. Putra Hibban beserta tartib Putra Balban juz 12, hal. 124]

Kegiatan aqiqah pendapat kesepakatan getah perca ulama merupakan hari ketujuh dari kemunculan. Hal ini berdasarkan hadits Samirah di mana Nabi SAW berkata, “Seorang anak terikat beserta aqiqahnya. Ia disembelihkan aqiqah pada hari ketujuh serta diberi nama”. (HR. al-Tirmidzi).

Namun demikian, apabila terlewat dan gak bisa dijalankan pada hari ketujuh, ia bisa dijalankan pada hari ke-14. Meski tidak pun, maka di hari ke-21 atau saat saja ia mampu. Kepala Malik mengatakan: Pada dzohirnya bahwa keterikatannya pada hari ke 7 (tujuh) bagi dasar panggilan, maka takut-takut menyembelih pada hari di 4 (empat) ke 8 (delapan), di 10 (sepuluh) atau setelahnya Aqiqah ini telah sedang. Karena prinsip ajaran Islam adalah memudahkan bukan merunyamkan sebagaimana tutur Allah SWT: “Allah mengkhayalkan kemudahan bagimu dan bukan menghendaki pertengkaran bagimu”. (QS. Al Baqarah: 185)

Kegiatan aqiqah disunnahkan pada hari yang ketujuh dari kemunculan, ini berdasarkan sabda Nabi SAW, yang artinya: “Setiap anak ini tergadai beserta hewan aqiqahnya, disembelih darinya pada hari ke tujuh, dan dia dicukur, dan diberi pamor. ” (HR: Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan, serta dishahihkan per At Tirmidzi)

Dan bila tidak dapat melaksanakannya pada hari ketujuh, maka mampu dilaksanakan di hari di empat belas kasihan, dan apabila tidak mampu, maka saat hari di dua puluh satu, berikut berdasarkan hadits Abdullah Putra Buraidah dari ayahnya daripada Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam, sira berkata yang artinya: “Hewan aqiqah tersebut disembelih pada hari ketujuh, ke empat belas, serta ke dua puluh wahid. ” (Hadits hasan tambo Al Baihaqiy)

Namun setelah tiga minggu masih gak mampu maka kapan sekadar pelaksanaannya pada kala sudah mampu, karena pelaksanaan pada hari-hari ke tujuh, ke empat belas kasihan dan ke dua persepuluhan satu merupakan sifatnya sunnah dan paling utama sungguh wajib. Dan boleh juga melaksanakannya pra hari di tujuh.

Momongan yang menyisih dunia sebelum hari ketujuh disunnahkan juga untuk disembelihkan aqiqahnya, bahkan meskipun balita yang keguguran dengan ukuran sudah berusia empat tarikh di dalam lembaga ibunya.

Aqiqah adalah syari’at yang ditekan kepada rama si balita. Namun jikalau seseorang yang belum di sembelihkan hewan aqiqah sebab orang tuanya hingga ia besar, dipastikan dia mampu menyembelih aqiqah dari dirinya sendiri, Syaikh Shalih Al Fauzan berkata: Dan jika tidak diaqiqahi oleh ayahnya kemudian dia mengaqiqahi dirinya sendiri jadi hal tersebut tidak apa-apa menurut abdi, wallahu ‘Alam.

Hukum Aqiqah Setelah Dewasa/Berkeluarga

Pada dasarnya aqiqah disyariatkan untuk dilaksanakan di dalam hari ketujuh dari kemunculan. Jika gak bisa, maka pada hari keempat belas kasihan. Dan jika gak bisa juga, maka saat hari kedua puluh mono. Selain itu, pelaksanaan aqiqah menjadi bagasi ayah.

Tapi demikian, kalau ternyata begitu kecil ia belum diaqiqahi, ia sanggup melakukan aqiqah sendiri di saat dewasa. Satu begitu al-Maimuni bertanya kepada Imam Ahmad, “ada orang yang belum diaqiqahi apakah pada besar ia boleh mengaqiqahi dirinya seorang diri? ” Imam Ahmad menyambut, “Menurutku, bila ia belum diaqiqahi tatkala kecil, jadi lebih bagus melakukannya seorang diri saat mantap. Aku bukan menganggapnya makruh”.

Para saudara Imam Syafi’i juga berpendapat demikian. Dari segi mereka, anak-anak yang sungguh dewasa yang belum diaqiqahi oleh orang2 tuanya, dianjurkan baginya untuk melakukan aqiqah sendiri.

Total Hewan

Jumlah hewan aqiqah minimal adalah satu kontrol baik untuk laki-laki atau pun untuk perempuan, sebagaimana perkataan Putri Abbas ra: “Sesungguh-nya Rasul SAW mengaqiqahi Hasan & Husain wahid domba mono domba. ” (Hadits shahih riwayat Bubuk Dawud dan Ibnu Al Jarud)

Aku harus pulih bahwa Patut dan Husain adalah keturunan kembar. Oleh sebab itu pada tunggal kelahiran itu disembelih 2 ekor kibas.

Namun yang lebih utama adalah dua ekor untuk anak laki-laki & 1 upaya untuk keturunan perempuan berdasarkan hadits-hadits berikut ini:

Ummu Kurz Al Ka’biyyah berkata, yang artinya: “Nabi SAW memerintahkan agar dsembelihkan aqiqah daripada anak laki-laki 2 ekor sedia dan atas anak perempuan satu upaya. ” (Hadits sanadnya shahih riwayat Imam Ahmad dan Ashhabus Sunan)

Dari Aisyah ra berkata, yang berarti: “Nabi SAW memerintahkan mereka agar disembelihkan aqiqah mulai anak laki-laki dua ekor kambing yang seimbang dan atas anak cewek satu ekor. ” (Shahih riwayat At Tirmidzi)

Hal-hal yang disyariatkan sehubungan secara ‘aqiqah

Yang berhubungan dengan sang keturunan

1. Disunnatkan untuk menyampaikan nama serta mencukur sabut (menggundul) saat hari ke-7 sejak hari iahirnya. Contohnya lahir pada hari Ahad, ‘aqiqahnya jatuh pada hari Sabtu.

2. Bagi bani disunnatkan ber’aqiqah dengan dua ekor wedus sedang bagi anak cewek 1 sudut.

3. ‘Aqiqah ini terutama dibebankan terhadap orang tua si anak, namun boleh pun dilakukan oleh keluarga lainnya (kakek dan sebagainya).

4. Aqiqah berikut hukumnya sunnah.

Daging Aqiqah Lebih Indah Mentah Ataupun Dimasak

Dianjurkan agar dagingnya diberikan pada kondisi sudah biasa dimasak. Hadits Aisyah ra., “Sunnahnya 2 ekor wedus untuk anak laki-laki dan wahid ekor kibas untuk budak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh”. (HR al-Bayhaqi)

Daging aqiqah dikasih kepada tetangga dan melarat miskin pula bisa diberikan kepada manusia non-muslim. Lagi pula jika sesuatu itu dimaksudkan untuk memukau simpatinya & dalam rangka dakwah. Dalilnya adalah firman Allah, “Mereka memberi makan orang melarat, anak yatim, dan terpidana, dengan sentimen senang”. (QS. Al-Insan: 8). Menurut Ibn Qudâmah, tahanan pada ketika itu adalah orang-orang kufur. Namun demikian, keluarga juga boleh membuang sebagiannya.

Yang berhubungan secara binatang sembelihan

1. Di masalah ‘aqiqah, binatang yang boleh dipergunakan sebagai sembelihan hanyalah kambing, tanpa memandang apakah lelaki atau bini, sebagaimana hal di pangkal ini:

Atas Ummu Kurz AI-Ka’biyah, sebetulnya ia pernah bertanya terhadap Rasulullah SAW tentang ‘aqiqah. Maka tutur beliau SAW, “Ya, untuk anak laki-laki 2 ekor wedus dan untuk anak cewek satu sudut kambing. Tidak menyusahkanmu bagus kambing ini jantan mau pun betina”. [HR. Ahmad dan Tirmidzi, dan Tirmidzi menshahihkannya, di dalam Nailul Authar 5: 149]

Dan kami belum memperoleh dalil yang lain yang menunjukkan adanya hewan selain kambing yang dipergunakan sebagai ‘aqiqah.

2. Waktu yang dituntunkan oleh Rasul SAW berlandaskan dalil yang shahih adalah pada hari ke-7 dari kelahiran budak tersebut. [Lihat informasi riwayat ‘Aisyah dan Samurah di atas]

Pembagian daging Aqiqah

Tentang hal dagingnya dipastikan dia (orang tua anak) bisa memakannya, menghadiahkan beberapa dagingnya, & mensedekahkan sebagian lagi. Syaikh Utsaimin berkata: Dan bukan apa-apa dia mensedekahkan darinya dan menjemput kerabat & tetangga untuk menyantap santapan daging aqiqah yang telah matang. Syaikh Jibrin berkata: Sunnahnya dia memakan sepertiganya, menghadiahkan sepertiganya kepada sahabat-sahabatnya, dan mensedekahkan sepertiga lagi kepada kaum muslimin, dan larat mengundang sohib-sohib dan nenek untuk menyantapnya, atau piawai juga dia mensedekahkan segenap. Syaikh Rumpun Bazz berkata: Dan engkau bebas memilih antara mensedekahkan seluruhnya atau sebagiannya & memasaknya kemudian mengundang orang2 yang engkau lihat terampil diundang daripada kalangan suku, tetangga, teman2 seiman & sebagian orang2 faqir untuk menyantapnya, serta hal sekeadaan dikatakan sambil Ulama-ulama yang terhimpun dalam Al lajnah Ad Daimah.

Pemberian Nama Keturunan

Tidak diragukan lagi bahwa ada siratan antara definisi sebuah nama dengan yang diberi nama. Hal itu ditunjukan beserta adanya sekitar nash syari yang menyembulkan hal ini.

Dari Abu Hurairoh Ra, Nabi SAW bersabda: “Kemudian Aslam mudah-mudahan Allah menyelamatkannya dan Ghifar semoga Sang pencipta mengampuninya”. (HR. Bukhori 3323, 3324 serta Muslim 617)

Ibnu Al-Qoyyim berkata: “Barangsiapa yang menanggapi sunah, ia akan mendapatkan bahwa makna-makna yang terkandung dalam identitas berkaitan dengannya sehingga seakan-akan makna-makna itu diambil darinya dan serasa nama-nama tersebut diambil mulai makna-maknanya”. Dan jika anda ingin mengetahui buah nama-nama lawan yang diberi nama (Al-musamma) maka perhatikanlah hadits dalam bawah tersebut:

Dari Said bin Musayyib dari bapaknya dari kakeknya Ra, ia berkata: Aku datang terhadap Nabi SAW, beliau pula biar bertanya: “Siapa namamu? ” Aku respons: “Hazin” Nabi berkata: “Namamu Sahl” Hazn berkata: “Aku tidak akan merobah nama rezeki bapakku” Pelerai demam Al-Musayyib berkata: “Orang ini senantiasa sok keras lawan kami setelahnya”. (HR. Bukhori) (At-Thiflu Wa Ahkamuhu/Ahmad Al-’Isawiy hal 65)

Oleh karena itu, pemberian nama yang bagus untuk anak-anak menjadi satu diantara kewajiban orang tua. harga aqiqah bandung Di antara nama-nama yang elok yang padan diberikan ialah nama nabi penghulu jaman yaitu Muhammad. Sebagaimana tutur beliau: Mulai Jabir Ra dari Rasul SAW beliau bersabda: “Namailah dengan namaku dan janganlah engkau memakai kunyahku”. (HR. Bukhori 2014 dan Muslim 2133)

Untuk mengetahui jalan pemberian nama yang baik dari sisi ajaran Agama islam, silahkan fraksi:

Memberi Seri Bayi atau Anak Dengan Islami


Memotong Rambut

Menjatuhkan rambut adalah anjuran Nabi yang sangat baik untuk dilaksanakan pada anak yang baru real pada hari ketujuh.

Di hadits Samirah disebutkan jika Rasulullah saw. Bersabda, “Setiap anak terikat dengan aqiqahnya. Pada hari ketujuh disembelihkan hewan untuknya, diberi seri, dan dicukur”. (HR. at-Tirmidzi).

Dalam kitab al-Muwaththâ` Imam Malik meriwayatkan bahwa Fatimah menimbang bobot rambut Lembut dan Husein lalu sira menyedekahkan galuh seberat sabut tersebut.

Tidak ada ketentuan apakah harus digundul atau bukan. Tetapi yang jelas pencukuran tersebut pantas dilakukan dengan rata; gak boleh hanya mencukur sekitar kepala & sebagian lainnya dibiarkan. Pasti lah semakin banyak rambut yang dicukur dan ditimbang semakin -insya Allah- tambah besar pula sedekahnya.

Ciri Menyembelih Fauna Aqiqah

Bismillah, Allahumma taqobbal min muhammadin, wa aali muhammadin, wa min ummati muhammadin.

Mempunyai: Dengan identitas Allah, sungguh Allah terimalah (kurban) daripada Muhammad dan keluarga Muhammad serta daripada ummat Muhammad. ” (HR Ahmad, Muslim, Abu Dawud)

Doa bayi baru dilahirkan

Innii u’iidzuka bikalimaatillaahit taammati min kulli syaythaanin wa haammatin wamin kulli ‘aynin laammatin

Berarti: Aku berlindung untuk bujang ini secara kalimat Allah Yang Simpan dari seluruh gangguan syaitan dan seloroh binatang bersama gangguan sorotan mata yang dapat membawa akibat leta bagi apa yang dilihatnya. (HR. Bukhari)

Hikmah Aqiqah

Aqiqah Menurut Syaikh Abdullah nashih Ulwan dalam kitab Tarbiyatul Aulad Fil Agama islam sebagaimana dilansir di satu situs punya beberapa panduan diantaranya:

1. Menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW pada meneladani Nabiyyullah Ibrahim USA tatkala Allah SWT menebus putra Ibrahim yang tercinta Ismail USA.

2. Pada aqiqah itu mengandung point perlindungan atas syaitan yang dapat memegang anak yang terlahir itu, dan tersebut sesuai dengan makna hadits, yang mempunyai: “Setiap bujang itu tergadai dengan aqiqahnya. ” [3]. Sehingga Anak yang sudah ditunaikan aqiqahnya insya Yang mahakuasa lebih terjamin dari sindiran syaithan yang sering meranyau anak-anak. Sesuatu inilah yang dimaksud oleh Al Kepala Ibunu Al Qayyim Al Jauziyah “bahwa lepasnya dia dari syaithan tergadai oleh aqiqahnya”.

3. Aqiqah ialah tebusan hutang anak untuk memberikan syafaat bagi kedua orang tuanya kelak di dalam hari rekapitulas. Sebagaimana Imam Ahmad mengeluarkan: “Dia tergadai dari menyampaikan Syafaat bagi kedua sosok tuanya (dengan aqiqahnya)”.

4. Merupakan susunan taqarrub (pendekatan diri) terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala sekaligus guna wujud mencicip syukur buat karunia yang dianugerahkan Sang pencipta Subhanahu wa Ta’ala dengan lahirnya si anak.

5. Aqiqah sebagai sarana mengadakan rasa semarak dalam mengusahakan syari’at Agama islam & bertambahnya keturunan mukminat yang mau memperbanyak umat Rasulullah SAW pada hari kiamat.

6. Aqiqah menegakkan ukhuwah (persaudaraan) diantara masyarakat.

Dan tetap banyak sedang hikmah yang terkandung pada pelaksanaan Syariat Aqiqah berikut.

Pengertian Aqiqah, Dalil Syari Tentang Aqiqah, Hukum Aqiqah Oleh Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i[Disalin & diringkas kembali dari kitab “Ahkamul Aqiqah” karya Serbuk Muhammad ‘Ishom bin Mar’i, terbitan Maktabah as-Shahabah, Jeddah, Saudi Arabia, dan diterjemahkan oleh Mustofa Mahmud Adam al-Bustoni, beserta judul “Aqiqah” terbitan Titian Ilahi Press, Yogjakarta, 1997]

Post by viborg90kirby (2017-01-14 20:48)

Post your comment:

Name: Email: Site:


| Explore users | New posts | Create your blog | Create your photo album |
| About Postbit | Our blog | Terms of use | Contact Postbit |


Copyright © 2017 - postbit.com